Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

Eagles Nest Ministries



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Selasa, 30 April 2013

THE NUMBER ONE SIN OF AMERICA!!!!!!!

This fact of life—that we can’t find or make time to concern ourselves beyond our own orbit—we justify by pointing to our torrid pace in America today. But, no excuse justifies the incomprehensible blind eye turned from the horror of the abortion industry which the news, finally, brought to our attention this past week.
America’s greatest sin should burst with convicting fire into the concern center of every person made aware of the story. There are reasons, however, that the horrific information needed to prick the consciences of every American will not be forthcoming. The reasons are summed up in two words—mainstream media.
This unbelievably reprehensible lack of accountability for what has been going on can be laid at the feet of the nation’s news organizations. The reason they’ve gotten away with such journalistic malfeasance can be laid at the feet of the American public. Fifty-plus million abortions that have anesthetized U.S. citizens to the reality and horror of this holocaust have been willfully accepted with only moderate resistance since the Supreme Court decision in Roe v Wade on January 22, 1973.
The nameless children who have been murdered in their mothers’ wombs by the multiplied millions are screaming in deafening silence. Now it is learned just how heinous have been the murders of the aborted little ones outside their mother’s wombs as well as inside. Still, mainstream media remain silent for the most part about this infanticide that has taken place under their supposedly superior reportorial investigative noses.
The grisly abortion activities of Dr. Kermit Gosnell in his Philadelphia, Pennsylvania, abortion horror chamber—which, incidentally, has been known since 2011—have finally reached the trial stage, thus is forcing some degree of reporting by reluctant news media organizations. Gosnell is charged with the murder of one woman and seven born infants, in which he allegedly “snipped” with scissors the babies’ spinal cords once they were outside their mothers’ wombs.
The liberal champions of the woman’s right to choose are hard pressed to look upon the things being uncovered in that horrendous murder factory. All the agenda-driven pundits on the left can come up with is that Gosnell’s unsanitary, non-professional clinic shows all the more reason for increased federal funds and regulations to assure clean, “safe” abortions.
The above is almost precisely what I heard Alan Colms, the liberal pundit for Fox News, say in response to Gosnell’s trial. Here’s what one angry journalist against legalized murder of babies had to say in regard to Gosnell and the reporting of the atrocities involved.
Thus far, Gosnell’s wretched clinic, with its filthy speculums, jars filled with severed baby feet, and photos of female genitalia, has had a hard time piquing the interest of major news outlets. After all, racy, sexy murderess Jodi Arias is much more intriguing than some twisted biracial abortionist carrying out Margaret Sanger’s eugenic ministry on vulnerable people of color. Isn’t she? (Jeannie DeAngelis, “Kermit Gosnell: Secret Hero of the Left,” American Thinker)
So, the big-time news men and women are being dragged kicking and screaming into covering this vile representation of the industry of infanticide they so fervently champion.
The little ones who have died since Roe v Wade have no names. They have been treated as inconsequential refuse to be flushed or sent to the garbage dumps of America. But, just as I have the name of my little Stanley forever etched in my memory, and each of you who has lost a loved one have their names stamped indelibly upon your hearts, the God of Heaven has a name for every one of the little ones who are now safely with Him, carved in His omniscient memory.
While the Word of God tells us that tears will one eternal day be wiped from every eye in Heaven, the Heavenly Father must at the present time shed tears of sadness for what continues to be the most severe child abuse possible–abortion. More than that, He must have hot tears of anger as He watches this nation He blessed so mightily shed innocent blood by more than 3,700 babies per day —something those who sacrificed their children to Molech in ancient times came nowhere near matching. Jesus made it inescapably clear what would be the fate of those who dealt so egregiously with little ones:
“But whoso shall offend one of these little ones which believe in me, it were better for him that a millstone were hanged about his neck, and that he were drowned in the depth of the sea” (Matthew 18:6).
—Terry  
BLACK ROBED REGIMENTS